Kota Makassar yang pernah bernama Ujung Pandang adalah wilayah Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo yang terletak pada pesisir pantai sebelah barat semenanjung Sulawesi Selatan.Pada mulanya merupakan bandar kecil yang di huni oleh suku Makassar dan Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung dengan perahu PINISI atau PALARI.
Jika ditinjau dari sejarah Kerajaan Majapahit dibawah raja Hayam Wuruk (1350)-1389) dengan patihnya Gajah Mada bertepatan dengan masa pemerintahan Raja Gowa ke II TUMASALANGGA BARAYA (1345-1370),Makassar sudah dikenal dan tercamtum dalam lembaran Syair 14 (4) dan (5) Kitab Negarakertagama karangan empu Prapanca (1364) sebagai daerah ke-VI Kerajaan Majapahit.
MASA SEJAK BERDIRINYA KERAJAAN GOWA DAN KERAJAAN TALLO.
......Kerajaan Gowa berdiri kira-kira tahun 1300M dengan Raja yang pertama adalah Seorang Perempuan bernama TUMANURUNG (1320-1345) yang kawin dengan KARAENG BAYO berasal dari Bonthain yang menurunkan Raja-Raja Gowa selanjutnya.
......Pusat Kerajaan Gowa terletak diatas bukit Takka'bassia yang kemudian berubah namanya menjadi Tamalate,tempat ini menjadi pusat Kerajaan Gowa sampai pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-VIII, I PAKERE TAU TUNIJALLO RI PASSUKKI (1460-1510).
......Dalam masa pemerintahan Raja Gowa ke-VI: TUNATANGKA LOPI (1445-1460) terjadi pembagian kerajaan,yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo.Masing-masing dipegang oleh kedua Puteranya yaitu BATARA GOWA TUNIAWANGA RI PARALEKKANNA sebagai Raja Gowa ke-VII(1460) dan KARAENG LOE RI SERO sebagai Raja Tallo yang pertama.
......Pada masa Raja Gowa ke-IX : DAENG MATANRE KARAENG MANGNGUNTUNGI yang bergelar TUMAPA'RISI KALLONA kedua Kerajaan Gowa dan Tallo disatukan kembali dan diperintah oleh Raja Gowa,yang menjadi Mangkubumi adalah Raja Tallo.Kedua kerajaan ini sering disebut Kerajaan Makassar.
......Pembangunan Benteng Somba Opu dari tanah liat pada tahun 1525 oleh Raja Gowa ke-IX TUMAPA'RISI KALLONNA (1510-15460.Dalam benteng ini terdapat istana Raja Gowa.Kerajaan Makassar menjadi pusat bandar niaga dengan syahbandar adalah DAENG PAMMATE yaang diangkat pada tahun 1538.Sejak itu Makassar menjadi Ibu Negeri,dengan bertitik pusat di kota Raja Somba Opu.
......Benteng Somba Opu disempurnakan dan dibangun dari Batu Bata pada masa Raja Gowa ke-X : I MANRIWAGAU DAENG BONTO KARAENG LAKIUNG TUNIPALLANGGA ULAWENG (1546-1565).
......Benteng Jumpandang (Ujung Pandang) yang mulai dibangun pada tahun 1545 pada masa pemerintahan TUMAPA'RISI KALLONNA kemudian dilanjutkan oleh TUNIPALLANGGA ULAWENG,maka oleh Raja Gowa SULTAN ALAUDIN pada tanggal 9 Agustus 1634 membuat dinding tembok Benteng Ujung Pandang dan pada tanggal 23 Juni 1635 dibuat lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang sehingga menyerupai seekor Penyu.
......Raja Gowa ke-XIV : I MANGNGARANGI DAENG MANRABIA dengan gelar SULTAN ALAUDIN memerintah mulai tahun 1593-1639 dengan Mangkubumi I MAL LINGKAANG DAENG MANYONRI KARAENG KATANGKA yang juga sebagai Raja Tallo.Beliaulah yang mula-mula memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan bertepatan pada hari jumat tanggal 22 september 1605.Adapun yang mengislamkan kedua Raja tersebut dan pebnduduk kerajaan Gowa - Tallo adalah ABDUL MA'MUR KHATIB TUNGGAL atau DATO' RI BANDANG yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat,beliau masuk di Tallo(Makassar) pada bulan september 1605.Pada Hari Jum'at tgl 9 Nopember 1607 diadakan sembahyang Jum'at pertama di Masjid Tallo dan dinyatakan bahwa penduduk Gowa-Tallo telah memeluk agama Islam sekaligus menetapkan Islam sebagai agama resmi.Bersamaan dengan itu diadakan sembahyang Jum'at di Masjid Mangallekana di Somba Opu.Pada masa beliau di bangun pula Benteng Panakukang yang terletak antara Somba Opu dan Barombong.
......Pada tahun 1596 Belanda dibawah pimpinan CORNELIS DE HOUTMAN dan DE KEYZER mulai menginjakkan kakinya di Pelabuhan Banten dan mengadakan perjanjian persahabatan dengan Mangkubumi Kerajaan Banten,disusul satu rombongan dibawah pimpinan JACOB VAN NECK dan VAN WAERWIJCK yang datang pada tanggal 28 November 1598.
......Pada tanggal 20 Maret 1602 berdiri V.O.C : Verenigde Oost-Indische Compagnie.
......Belanda mulai menanam pengaruhnya di Kerajaan Gowa dengan membuka kantor dagang Belanda pada tahun 1607 di kepalai oleh CLAES LEURSEN yang merupakan orang Belanda pertama menetap di Makassar,serta membangun Loji disebelah utara Benteng Ujung Pandang dan diberi nama Stad Vlaardingen.
......Pada Tahun 1632 seorang bangsawan Melayu yaitu DATUK MAHARA-JALELA beserta dua keponakanya suami dan Istri datang dan menetap di Gowa dan oleh orang-orang Melayu diangkat sebagai kepala orang-orang Melayu.
......Setelah SULTAN ALAUDDIN wafat,beliau digantikan oleh anaknya yaitu SULTAN MALIKUSSAID yang menjadi Raja Gowa ke-XV (14 Juni 1639 s/d 16 November 1653) dengan Mangkubumi I MANGADA'CINA DAENG SITABA KARAENG PATTINGALLOANG.Pada tanggal 5 November 1653 sultan Malikkussaid WAFAT.
......SULTAN MALIKUSSAID digantikan oleh puteranya yaitu I MALLOMBASSI DAENG MATTAWANG KARAENG BONTO MANGAPPE,dengan Gelar SULTAN HASANUDDIN,lahir pada tanggal 12 Januari 1631.SULTAN HASANUDDIN mulai memerintah dari tanggal 16 November 1653 s/d 29 agustus 1669 dengan pusat kerajaan tetap di Benteng Somba Opu.sebagai Mangkubumi adalah KARAENG KARUNRUNG yang bertempat tinggal di Bontoala.
......Antara tahun 1655 s/d 1669 terjadi peperangan antara Kerajaan Gowa dibawah SULTAN HASANUDDIN dengan VOC.Benteng Ujung Pandang direbut oleh VOC pada hari selasa tgl 18 November 1667,dengan kekalahan tersebut dibuatlah Perjanjian Bungaya ( Het Bongaisch Verdrag) antara Kerajaan Gowa dengan VOC,kemudian Benteng Ujung Pandang diganti nama oleh Admiral CORNELIS JANSZOON SPEELMAN menjadi PORT ROTTERDAM dan kemudian ditempati oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan militer dan sipil.
......Benteng Somba Opu direbut oleh VOC pada Hari Jum't 24 Juni 1669.Pemerintah Kerajaan Gowa dipindahkan ke Benteng Ana'Gowa di Taenga seberang sungai Jeneberang.
......Pada waktu ABDUL JALIL menjadi Raja Gowa ke-xix (1677-1709) beberapa bangsawan dan penduduk Kerajaan Gowa meninggalkan Gowa dan pindah menetap di sebelah selatan Benteng Ujung Pandang yang kemudian tempat ini menjadi Kampung Beru ( baru).
Semoga bermanfaat untuk FORKOT Makassar,Ingat JASMERAH jangan sekali-kali melupakan sejarah......
Selasa, 18 Mei 2010
Rabu, 12 Mei 2010
JaSMeRah_12MEI1998
Banyak momentum di bulan mei namun smua berlalu bgitu saja.. Ngga ada koreksi dan introspeksi.
wktu tersebut ngga mngkin akan diulang kmbali, cukuplah mnjadi bagian sejarah indah shingga ditetapkan mnjadi hari besar pun ada hari yg tdk dispekati oleh pemerintah sperti hari buruh dan lahirx reformasi..
Sejarah hari buruh sedunia berawal dari kaum buruh di amerika yg mnolak sistem yg tidak sedikit meminta korban, begitu juga bgmn para mahasiswa dan masyrkt sipil harus bahu membahu mlawan kerasnya sistem wktu itu (orba)..
Namun hari ini smua tinggal kenangan, masalah hari ini sama sperti masalah sebelum reformasi..
Karakter dan budaya masih seperti yg dulu bahkan skrng mngkin lebih kejam yg berubah hx struktural(fisik saja)..
Teringat kalimat Soekarno bahwa dia hanya butuh 10 pemuda untuk bisa merubah bangsa ini..
Semoga anak cucu qt bisa merasakan nikmat dari apa yg smntara qt perjuangkan hari ini.. skiranya perubahan ingin darah dan air mata bukan tidak mngkin prubahan juga bisa dengan cinta dan senyuman..
wktu tersebut ngga mngkin akan diulang kmbali, cukuplah mnjadi bagian sejarah indah shingga ditetapkan mnjadi hari besar pun ada hari yg tdk dispekati oleh pemerintah sperti hari buruh dan lahirx reformasi..
Sejarah hari buruh sedunia berawal dari kaum buruh di amerika yg mnolak sistem yg tidak sedikit meminta korban, begitu juga bgmn para mahasiswa dan masyrkt sipil harus bahu membahu mlawan kerasnya sistem wktu itu (orba)..
Namun hari ini smua tinggal kenangan, masalah hari ini sama sperti masalah sebelum reformasi..
Karakter dan budaya masih seperti yg dulu bahkan skrng mngkin lebih kejam yg berubah hx struktural(fisik saja)..
Teringat kalimat Soekarno bahwa dia hanya butuh 10 pemuda untuk bisa merubah bangsa ini..
Semoga anak cucu qt bisa merasakan nikmat dari apa yg smntara qt perjuangkan hari ini.. skiranya perubahan ingin darah dan air mata bukan tidak mngkin prubahan juga bisa dengan cinta dan senyuman..
Rabu, 10 Maret 2010
Untuk Abank..DiSANA!!!
Penggusuran di sudut sana..
atas nama Pembangunan
katax..
Biar kota klihatan cantik
Di depan..
Penangkapan Gepeng dan Anjal,
mahasiswa yg berteriak lantang TOLAK BHP
Sbenarx apa yg telah Beliau kerjakan di ruangan megah nan cantik itu
katax
Mereka Wakil rakyat
wakil rakyat memang..
tapi bukan untuk KAMU
yang di jalanan berdebu
diatas roda dua
dirumah kecil yang begitu bau dan panas
diperbatasan..hahahahahah
_Andi Rachmat Arfadly_KopZon171009
atas nama Pembangunan
katax..
Biar kota klihatan cantik
Di depan..
Penangkapan Gepeng dan Anjal,
mahasiswa yg berteriak lantang TOLAK BHP
Sbenarx apa yg telah Beliau kerjakan di ruangan megah nan cantik itu
katax
Mereka Wakil rakyat
wakil rakyat memang..
tapi bukan untuk KAMU
yang di jalanan berdebu
diatas roda dua
dirumah kecil yang begitu bau dan panas
diperbatasan..hahahahahah
_Andi Rachmat Arfadly_KopZon171009
Jumat, 05 Maret 2010
bersama qt menangis_slank
kadang ku merasa sendirian
sahabat cuma diriku sendiri
selalu terasa kesepian
seakan orang-orang ga ada yg pernah peduli
andai ada seorang bidadari
yg mau dngarkan isi hati
andai ku hidup dgn bidadari
yg tetap setia menemaniku yg lagi sedih dan sepi..
bersama qt menangis
mengulang ingatan tengah malam
otakku melayang di kesunyian
aku butuh teman yg berarti
tapi mereka sibug memikirkan diri sendiri
andai ada seorang bidadari
yg maw mngajak aku pergi
andai kuterbang dengan bidadari
yg menggenggam dan membawa aku yg lagi sedih dan sepi..
bersama qt menangis..
sahabat cuma diriku sendiri
sahabat cuma diriku sendiri
selalu terasa kesepian
seakan orang-orang ga ada yg pernah peduli
andai ada seorang bidadari
yg mau dngarkan isi hati
andai ku hidup dgn bidadari
yg tetap setia menemaniku yg lagi sedih dan sepi..
bersama qt menangis
mengulang ingatan tengah malam
otakku melayang di kesunyian
aku butuh teman yg berarti
tapi mereka sibug memikirkan diri sendiri
andai ada seorang bidadari
yg maw mngajak aku pergi
andai kuterbang dengan bidadari
yg menggenggam dan membawa aku yg lagi sedih dan sepi..
bersama qt menangis..
sahabat cuma diriku sendiri
lorong hitam_(lagi sedih)_slank
tatap matamu ingatkan aku pada bintang
terang menyinari bumi di sudut malam
lihat senyummu khayali aku akan sampah
tumbuh dibenak hitamku akan arak
benak hitamku melayang
menuju lorong hitam
sentuh kulitmu ingatkan aku pada ruang
sesak menghimpit dadaku
getaran rasa
belai rambutmu khayali aku akan rimba
lebat sesakkan langkahku
ganas dan liar
terang menyinari bumi di sudut malam
lihat senyummu khayali aku akan sampah
tumbuh dibenak hitamku akan arak
benak hitamku melayang
menuju lorong hitam
sentuh kulitmu ingatkan aku pada ruang
sesak menghimpit dadaku
getaran rasa
belai rambutmu khayali aku akan rimba
lebat sesakkan langkahku
ganas dan liar
Minggu, 28 Februari 2010
EFEK RUMAH KACA
Definisi efek rumah kaca kurang lebih adalah sekumpulan gas Karbondioksida (CO2) dan gas-gas lain yang terjebak di atmosfer dan tidak terurai sehingga menimbulkan efek pemanasan global.
Hal yang menyebabkan Suhu Bumi semakin meningkat karena energi panas yang bersumber dari pusat tata surya kita (matahari) masuk dan terperangkap di bumi oleh gas rumah kaca tersebut.
Akibatnya, es di kutub bumi mulai mencair…permukaan air meningkat…bumi semakin panas…perubahan iklim buruk yang berbeda terjadi di belahan dunia yang berbeda…misalnya di belahan dunia tertentu terjadi bencana kekeringan, sedangkan belahan dunia lainnya terjadi bencana hujan, banjir dan gelombang pasang.
Efek rumah kaca ini mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem biota di laut yang berakibat gas O2 yang sebagian juga dihasilkan oleh makhluk di dalam laut juga berkurang. Akibatnya bisa ditebak…akankah kiamat terjadi dalam waktu dekat atau beberapa dekade mendatang ?
Ada berita yang melaporkan suatu pameran terhadap benda bersejarah kepunyaan Sir Isaak Newton (scientist terkemuka jaman dulu kala yang menemukan efek gravitasi) bahwasanya dunia akan kiamat di tahun 2060. Kalau melihat fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini…mungkin saja kalo kita tidak segera merubah pola hidup kita terhadap keseimbangan lingkungan.
Caranya menjaga keseimbangan lingkungan :
1. Kurangi pemakaian bahan bakar fosil untuk pembakaran baik itu untuk kendaraan bermotor, perusahaan listrik dll.
2. Kurangi penebangan pohon, mari tanam pohon yang banyak supaya jadi paru-paru kota, paru-paru dunia, paru-paru kita bersama.
3. Buang sampah pada tempatnya.
4. Kurangi pemborosan energi dan makanan. jangan mubazir (menyisakan makanan karena memasak juga butuh energi).
5. Luangkan waktu untuk menikmati indahnya dunia dan melestarikan lngkungan.
Global warming adalah suatu peristiwa yang disebabkan meningkatnya efek rumah kaca (green house effect). Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah suatu hal yang buruk, justru dengan adanya efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, bahkan memungkinkan kita bisa survive hingga sekarang.
Kamu bisa mengibaratkan bumi kita seperti mobil yang sedang diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti akan berpikir bahwa temperature di dalam mobil pasti akan lebih panas dibandingkan temperature di luar mobil. Sinar matahari memasuki mobil tersebut melalui celah-celah pada kaca jendela dan secara otomatis panas dari sinar matahari akan diserap oleh jok, karpet, dashboard serta benda-benda lain yang berada di dalam mobil. Ketika semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang diserapnya, tidak semua panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela, sebagian justru akan dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan kembali oleh benda-benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil, dan hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara berkala, semakin lama akan semakin panas.
Ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya. 30 % sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu, karena bila demikian maka suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”). Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca (green house effect).
Bumi Tanpa Efek Rumah Kaca
Apa yang akan terjadi bila bumi kita tanpa efek rumah kaca, maka bumi akan seperti planet Mars. Mars tidak memiliki atmosfer yang cukup tebal untuk mempertahankan panas Matahari, di sana sangat dingin. Sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan. Masya Alloh….
So, berterimakasihlah pada Alloh SWT, karena dengan efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, tidak membeku dan kita bisa tetap hidup
Penyebab EFEK RUMAH KACA
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Hal yang menyebabkan Suhu Bumi semakin meningkat karena energi panas yang bersumber dari pusat tata surya kita (matahari) masuk dan terperangkap di bumi oleh gas rumah kaca tersebut.
Akibatnya, es di kutub bumi mulai mencair…permukaan air meningkat…bumi semakin panas…perubahan iklim buruk yang berbeda terjadi di belahan dunia yang berbeda…misalnya di belahan dunia tertentu terjadi bencana kekeringan, sedangkan belahan dunia lainnya terjadi bencana hujan, banjir dan gelombang pasang.
Efek rumah kaca ini mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem biota di laut yang berakibat gas O2 yang sebagian juga dihasilkan oleh makhluk di dalam laut juga berkurang. Akibatnya bisa ditebak…akankah kiamat terjadi dalam waktu dekat atau beberapa dekade mendatang ?
Ada berita yang melaporkan suatu pameran terhadap benda bersejarah kepunyaan Sir Isaak Newton (scientist terkemuka jaman dulu kala yang menemukan efek gravitasi) bahwasanya dunia akan kiamat di tahun 2060. Kalau melihat fenomena-fenomena yang terjadi belakangan ini…mungkin saja kalo kita tidak segera merubah pola hidup kita terhadap keseimbangan lingkungan.
Caranya menjaga keseimbangan lingkungan :
1. Kurangi pemakaian bahan bakar fosil untuk pembakaran baik itu untuk kendaraan bermotor, perusahaan listrik dll.
2. Kurangi penebangan pohon, mari tanam pohon yang banyak supaya jadi paru-paru kota, paru-paru dunia, paru-paru kita bersama.
3. Buang sampah pada tempatnya.
4. Kurangi pemborosan energi dan makanan. jangan mubazir (menyisakan makanan karena memasak juga butuh energi).
5. Luangkan waktu untuk menikmati indahnya dunia dan melestarikan lngkungan.
Global warming adalah suatu peristiwa yang disebabkan meningkatnya efek rumah kaca (green house effect). Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah suatu hal yang buruk, justru dengan adanya efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, bahkan memungkinkan kita bisa survive hingga sekarang.
Kamu bisa mengibaratkan bumi kita seperti mobil yang sedang diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti akan berpikir bahwa temperature di dalam mobil pasti akan lebih panas dibandingkan temperature di luar mobil. Sinar matahari memasuki mobil tersebut melalui celah-celah pada kaca jendela dan secara otomatis panas dari sinar matahari akan diserap oleh jok, karpet, dashboard serta benda-benda lain yang berada di dalam mobil. Ketika semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang diserapnya, tidak semua panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela, sebagian justru akan dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan kembali oleh benda-benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil, dan hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara berkala, semakin lama akan semakin panas.
Ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda lainnya. 30 % sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu, karena bila demikian maka suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”). Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan bumi ketika mengenai zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat dari pada di luar angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut dengan efek rumah kaca (green house effect).
Bumi Tanpa Efek Rumah Kaca
Apa yang akan terjadi bila bumi kita tanpa efek rumah kaca, maka bumi akan seperti planet Mars. Mars tidak memiliki atmosfer yang cukup tebal untuk mempertahankan panas Matahari, di sana sangat dingin. Sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan. Masya Alloh….
So, berterimakasihlah pada Alloh SWT, karena dengan efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, tidak membeku dan kita bisa tetap hidup
Penyebab EFEK RUMAH KACA
Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
Energi yang masuk ke bumi mengalami : 25% dipantulkan oleh awan atau partikel lain di atmosfer 25% diserap awan 45% diadsorpsi permukaan bumi 5% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi
Energi yang diadsoprsi dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah oleh awan dan permukaan bumi. Namun sebagian besar infra merah yang dipancarkan bumi tertahan oleh awan dan gas CO2 dan gas lainnya, untuk dikembalikan ke permukaan bumi. Dalam keadaan normal, efek rumah kaca diperlukan, dengan adanya efek rumah kaca perbedaan suhu antara siang dan malam di bumi tidak terlalu jauh berbeda.
Selain gas CO2, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca adalah sulfur dioksida (SO2), nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas metana (CH4) dan khloro fluoro karbon (CFC). Gas-gas tersebut memegang peranan penting dalam meningkatkan efek rumah kaca.
Minggu, 21 Februari 2010
Kesesuaian Lahan dan Kakao
2. 1. Evaluasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi lahan adalah proses dalam menduga kelas kesesuaian lahan dan potensi lahan untuk penggunaan tertentu, baik untuk pertanian maupun nonpertanian. Adapun kerangka dasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan suatu penggunaan lahan tertentu dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut (Sitorus, 1995). Menurut Husein (1981), evaluasi kesesuaian lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman atau golongan tanaman.
Evaluasi kesesuaian lahan mempunyai penekanan yang tajam, yaitu mencari lokasi yang mempunyai sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan produksi atau penggunaannya. Dalam menentukan kesesuaian untuk tanaman tertentu dikenal dua tahapan. Tahapan pertama menilai persyaratan tumbuh tanaman yang akan diusahakan atau mengetahui sifat-sifat tanah dan lokasi yang pengaruhnya bersifat negatif terhadap tanaman. Tahapan kedua mengidentifikasi dan membatasi lahan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tetapi tanpa sifat lain yang tidak diinginkan (Sitorus, 1989).
Prinsip utama yang digunakan dalam proses evaluasi lahan adalah sebagai berikut (FAO, 1976; Young 1978) dalam Sitorus, (1989):
1. Kesesuaian lahan dinilai berdasarkan macam atau jenis penggunaan lahan tersebut.
2. Evaluasi lahan membutuhkan pembandingan antara keuntungan yang diperoleh dengan memasukkan yang diperlukan.
3. Evaluasi dilakukan sesuai dengan kondisi-kondisi fisik lahan, kondisi sosial, kondisi ekonomi dan kondisi nasional.
4. Kesesuaian didasarkan atas penggunaan yang lestari.
5. Evaluasi melibatkan pembandingan lebih dari satu jenis penggunaan lahan.
Sys et al (1991) menambahkan bahwa klasifikasi kesesuaian aktual dan potensial adalah konsep lain dari evaluasi lahan dimanan kelas kesesuaian aktual berhubungan dengan kondisi lahan pada saat ini didasarkan kepada observasi langsung, sedangkan kelas kesesuaian potensial menunjukkan suatu situasi akan datang jika lahan telah diubah dengan perbaikan-perbaikan dasar.
2. 2. Metode Pendekatan dalam Evaluasi Lahan
Ada tiga metode pendekatan yang umum digunakan dalam evaluasi lahan yaitu pendekatan pembatas, pendekatan parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.
2. 2. 1. Pendekatan Pembatas
Pendekatan pembatas lahan adalah suatu cara memperlihatkan kondisi lahan atau karakteristik lahan. Pembatas lahan ialah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik lahan dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et al., 1991).
Selanjutnya dikatakan bahwa pendekatan pembatas lahan terbagi menjadi beberapa tingkat pembatas suatu lahan dan kelas kesesuaiannya mulai dari tingkat tanpa pembatas sampai pada tingkat sangat berat. Urutan tingkat pembatas sebagai berikut:
a. 0 (tanpa pembatas), digolongkan ke dalam kelas S1
b. 1 (pembatas ringan), digolongkan ke dalam kelas S1
c. 2 (pembatas sedang), digolongkan ke dalam kelas S2
d. 3 (pembatas berat), digolongkan ke dalam kelas S3
e. 4 (pembatas sangat berat), digolongkan ke dalam kelas N1 dan N2
2. 2. 2. Pendekatan Parametrik
Dalam pendekatan parametrik dilakukan pemberian bobot atau rating pada tiap karakteristik (kualitas) lahan. Jika karakteristik lahan atau kualitas lahan optimal untuk suat tipe penggunaan lahan yang dipilih, maka
diberikan nilai rating maksimum 100, namun jika karakteristik atau kualitas lahan memperlihatkan adanya pembatas, maka diberikan nilai rating yang rendah (Sys et al., 1991).
Menurut Mabbut, (1996) dalam Sitorus (1989), pendekatan parametrik mengkelaskan lahan atas dasar sejumlah sifat lahan tertentu, dimana pemilihan sifat tersebut ditentukan oleh peruntukan atau penggunaan lahan yang sedang dipertanyakan. Pendekatan ini biasanya digunakan apabila individu dari sifat lahan dianggap lebih penting daripada sifat lahan keseluruhan.
Pendekatan parametrik mempunyai beberapa keuntungan yaitu lebih bersifat kuantitatif dan kurang tergantung terhadap hasil interpretasi yang sifatnya subjektif dari bentuk lahan. Juga lebih bersifat statistik dalam mengukur keragaman, menformulasikan pengambilan contoh yang rasional dan menyatakan batas peluang dari hasil-hasil penemuan. Selain itu juga lebih cocok dengan perkembangan yang semakin meningkat (Sitorus, 1989).
2. 2. 3. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik
Kombinasi pendekatan parametrik dan pembatas yang dikemukakan oleh Sys et al (1991), sering digunakan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara memberi bobot berdasarkan nilai kesetaraan tertentu sekaligus merupakan penentuan tingkat pembatas lahan yang dicirikan oleh harkat terkecil.
Tingkat pembatas dan kombinasi antara pendekatan pembatas dan parametrik dalam evaluasi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Penilaian Kelas Kesesuaian Lahan
Indeks Lahan atau Iklim Nilai Ekivalensi
Tingkat Pembatas Kelas Kesesuaian Lahan
>75
50 – 75
25 – 50
12 – 25
<12 100 – 85
85 – 60
60 – 40
40 – 25
<25 Tidak Ada
Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat S1
S2
S3
N1
N2
Sumber: Sys et al (1991).
2. 3. Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuaian lahan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Evaluasi lahan secara kualitatif menekankan pada hasil yang hanya bersifat kualitatif saja, seperti penggolongan satuan lahan ke dalam kategori; sesuai, cukup sesuai, sesuai marjinal, dan tidak sesuai, tanpa memperhitungkan biaya dan pendapatan yang akan diperoleh. Pendekatan ini umumnya hanya menggunakan parameter biofisik dalam proses evaluasi. Faktor ekonomi hanya digunakan sebagai acuan dasar, tidak dikaji. Sedangkan evaluasi kuantitatif adalah suatu pendekatan dimana perbedaan-perbedaan antara kelas-kelas satuan lahan dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka-angka seperti indeks produktivitas, produksi persatuan lahan, daya dukung lahan, keuntungan bersih dan lain-lain (Baja, 2001.).
Dengan kata lain, aspek ekonomi lebih diperhitungkan dalam pendekatan ini. Dent dan Young (1981), membagi pendekatan kuantitatif menjadi evaluasi fisik kuantitatif dan evaluasi ekonomi. Hasil evaluasi kualitatif umumnya menunjukkan kemungkinan besarnya input yang diperlukan (melalui perbaikan kualiats) untuk pengusahaan suatu lahan terhadap jenis penggunaan tertentu. Sedangkan hasil evaluasi kuantitatif akan menunjukkan besarnya keuntungan atau kerugian dalam penggunaan lahan tertentu. Hasilnya cepat out of date akibat nilai ekonomi yang cepat berubah (Baja, 2001). Struktur dari sistem klasifikasi kesesuaian lahan terbagi kedalam tingkatan ordo, kelas, sub kelas dan satuan.
2. 3. 1. Ordo
Kesesuaian lahan pada tingkat ordo menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Ordo kesesuaian lahan ini dibagi dua yaitu; 1) Ordo S (sesuai) ialah lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatannya melebihi masukan yang diberikan, 2) Ordo N (tidak sesuai) ialah lahan yang mempunyai pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari.
2. 3. 2. Kelas
Kesesuaian lahan pada tingkat kelas adalah pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari ordo. Apabila tiga kelas yang dipakai dalam ordo sesuai (S) dan dua kelas dalam ordo tidak sesuai (N), maka pembagian serta defenisi kelas tersebut adalah sebagai berikut:
2. 3. 2. 1. Kelas S1 (Sangat Sesuai):
Lahan tanpa pembatas atau sedikit pembatas ringan untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan sumberdaya lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi masukan yang diberikan.
2. 3. 2. 2. Kelas S2 (Cukup Sesuai):
Lahan yang mempunyai pembatas yang agak berat untuk suatu penggunaan secara lestari. Pembatas akan mengurangi hasil dan keuntungan serta menaikkan masukan yang diperlukan.
2. 3. 2. 3. Kelas S3 (Sesuai Marginal):
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk penggunaan yang lestari. Pembatasnya akan mengurangi hasil dan keuntungan serta perlu menaikkan masukan yang diperlukan.
2. 3. 2. 4. Kelas N1 (Tidak Sesuai Saat Ini):
Lahan yang mempunyai faktor pembatas berat tetapi masih memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya rasional.
2. 3. 2. 5. Kelas N2 (Tidak Sesuai Permanen):
Lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat sehingga tidak memungkinkan digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.
2. 3. 3. Sub Kelas
Kesesuaian lahan pada tingkat sub kelas mencerminkan jenis-jenis pembatas yang dimiliki atau bentuk perbaikan dalam suatu kelas kesesuaian lahan, tiap kelas kecuali kelas S1 dapat dibagi menjadi satu atau lebih sub kelas tergantung dari jenis pembatas yang ada. Jenis pembatas yang ditunjukkan dengan simbol huruf kecil yang diletakkan setelah simbol kelas.
Beberapa jenis pembatas menentukan sub kelas kesesuaian lahan yaitu pembatas iklim (c), pembatas topografi (t), pembatas kebasahan (w), pembatas faktor fisika tanah (s), pembatas faktor kesuburan tanah (f), pembatas salinitas dan alkalinitas (n).
2. 3. 4. Satuan
Kesesuaian lahan dalam tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari sub kelas berdasarkan atas besarnya faktor penghambat. Pada penelitian ini, tingkat kesesuaian lahan hanya dilakukan sampai kategori sub kelas.
2.4 Kakao (Theobroma cacao L.)
2.4.1 Sistematika Tanaman Kakao
Kakao merupakan satu-satunya diantara 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Menurut Tjitrosoepomo (1988), sistematika tanaman kakao adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Anak kelas : Dialypetalae
Bangsa : Malvales
Suku : Sterculiaceae
Marga : Theobroma
Jenis : Theobroma cacao L.
Menurut Cheesman (cit. Wood dan Lass, 2001), kakao dibagi tiga kelompok besar, yaitu criollo , forastero dan trinitario. Sifat criollo adalah pertumbuhannya kurang kuat, daya hasil lebih rendah daripada forastero, relatif gampang terserang hama dan penyakit. Permukaan kulit buah criollo kasar, berbenjol-bonjol, dan alur-alurnya jelas. Kulit ini tebal tetepi lunak sehingga mudah dipecah. Kadar lemak dalam biji lebih rendah daripada forastero tetapi ukuran bijinya besar, bentuknya bulat, dan memberikan citarasa khas yang baik. Lama fermentasi bijinya lebih singkat daripada tipe forastero. Dalam tata niaga kakao criollo termasuk kelompok kakao mulia (fine-flavoured), sementara itu kakao forastero termasuk kakao lindak (bulk)
2.4.2 Kesesuaian Lahan Dan Syarat Tumbuh Tanaman Kakao
Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman kakao menghendaki lahan yang sesuai, yang mempunyai keadaan iklim dan keadaan tanah tertentu Keadaan iklim yang sesuai untuk tanaman kakao, antara lain:
a. Curah hujan cukup dan terdistribusi merata, dengan jumah curah hujan 1500-2500 mm/th, dengan bulan kering tidak lebih dari 3 bulan.
b. Suhu rata-rata antara 15 - 30 C, dengan suhu optimum 25,5 C
c. Fluktuasi suhu harian tidak lebih dari 9 C
d. Tidak ada angin bertiup kencang
Keadaan tanah yang dikehendaki tanaman kakao antara lain:
a. Solum tanah dalam (>150 cm)
b. Tekstur dan struktur tanah baik, sehingga tanah mempunyai daya menahan air, aerasi, dan drainase yang baik
c. pH tanah antara 6 - 7
d. Kandungan bahan organik tidak kurang dari 3%
e. Kandungan unsur hara cukup tinggi
2.4.3 Anatomi Kakao
Tanaman kakao tergolong dalam suku Sterculiacea dari bangsa Malvales. Berbeda dengan suku dari bangsa yang lain, struktur anatomi Sterculiaceae memiliki banyak kekhususan. Uraian anatomi organ kakao dimulai dari akar kemudian dilanjutkan dengan batang dan akar.
2. 4. 3. 1. Anatomi Akar
Pada saat akar mengalami pertumbuhan sekunder, berkas pengangkut primer akan menyusun bagian tengah kemudian membentuk struktur heksagonal (akar tunggang) dan struktur tetragonal (akar lateral). Pada jaringan primer, berkas floem letaknya berselang-seling secara radial dan berkas xilemnya dipisahkan oleh lapisan sel parenkim. Sementara itu, floem primer membentuk kelompok dan kemudian endodermisnya dipisahkan oleh sel perisikel. Awal pertumbuhan akar lateral dari lapisan perisikel berasal dari satu sisi yang berlawanan dengan tempat berkumpulnya xylem primer. Korteks disusun oleh 6-16 lapis sel parenkim dan terletak di sebelah luar endodermis. Epidermis akar tersusun atas satu lapis sel.
Xilem sekunder akar disusun oleh unsure-unsur trakea yang terdiri atas trakea, trakeida, serabut trakeida, dan parenkim kayu. Trakea akan lebih banyak dijumpai di dekat xilem primer, tetapi diameternya lebih kecil daripada trakea yang berada jauh dari xilem primer. Struktur jari-jari xilem akar kurang jelas, pada umumnya tersusun atas 1-3 lapis sel parenkim. Penampang melintang sel parenkim ini berbentuk bujur sangkar. Jari-jari xilem bagian luar terkait dengan berkas floem. Di bagian ini, jari-jari xilem akan melebar membentuk bagian floem dengan struktur menyerupai bentuk segitiga. Kebanyakan trakea berada berdampingan dengan jari-jari xilem ini.
Floem sekunder terdiri atas pembuluh tapis, sel pengiring, serabut floem, dan parenkim floem. Struktur berkas floem menyerupai bagian segitiga dan menjadi ciri khas dari suku Sterculiaceae. Berkas floem secara radial berselang-seling dengan jari-jari floem dan disebut sebagai jaringan dilatasi. Ukuran berkas floem akar relative lebih pendek daripada floem batang.
Akar sekunder (lateral) kakao tumbuh dari jaringan perisikel ke arah luar menembus endodermis, korteks, dan epidermis akar primer (akar tunggang). Anatomi akar lateral menyerupai akar tunggang dan perbedaan pokoknya hanya terletak pada penumpang melintang berkas pengangkut primer (primary vascular strand). Pada penampang melintang, akar tunggang bentuknya menyerupai bentuk heksagonal, sedangkan akar lateral menyerupai bangun tetragonal. Pada permukaan akar lateral banyak ditumbuhi bulu akar.
2. 4. 3. 2. Anatomi Batang
Batang kakao bersifat dimorfisme, artinya memiliki dua macam tunas, yaitu tunas ortotrop (chupon) dan tunas plagiotrop (fan). Anatomi kedua macam tunas tersebut pada dasarnya adalah sama. Xilem primer batang terkumpul pada bagian tepi empulur dan berdampingan dengan xilem sekunder yang tumbuh setelahnya. Diameter empulur cukup besar dengan bentuk sel-sel isodiametris dengan ruang-ruang antar sel yang lebar. Di bagian empulur ini terdapat banyak sel lendir yang
merupakan bentukan dari sekitar lima sel parinkem. Sel-sel tersebut memiliki dinding sel yang saling melarut sehingga membentuk saluran lendir memanjang di sepanjang batang.
Ukuran saluran lendir pada empular jauh lebih besar daripada saluran lendir yang terdapat pada korteks. Penampang melintang saluran pada batang ini bentuknya membulat pada bibit umur 4,5 bulan jumlah saluran sekitar 8-12. Pada korteks, bentuk penampang saluran lendir beragam, mulai dari bulat sampai lonjong. Ukurannya lebih kecil, tetapi jumlahnya lebih banyak dibandingkan saluran yang terdapat pada empulur. Walaupun sebarannya tidak teratur, saluran lendir pada korteks mudah ddijumpai pada bibit yang lebih muda karena ukurannya lebih besar.
Korteks pada batang kakao ukurannya lebih tebal dan tersusun atas 15-20 lapis sel. Sel-selnya bersifat parenkimatis dan bentuknya isodiametris. Di bagian luar korteks tersebar sel-sel lendir yang membentuk saluran lendir dan memanjang sampai tangkai daun.
Kekhasan yang lain dari pertumbuhan batang kakao adalah terbentuknya jorket dari tunas ortotrop. Dari joket tersebut akan tumbuh 4-6 cabang plagiotrop. Pengamatan anatomis menunjukan bahwa tiap-tiap cabang plagiotrop tumbuh dari ruas-ruas yang berbeda, tetapi karena buku antar ruas tersebut amat pendek, membuat semua cabang plagiotrop seakan-akan tumbuh dari satu ruas yang sama.
2. 4. 3. 3. Anatomi Daun
Susunan anatomi daun kakao berturut-turut terdiri atas satu lapis sel epidermis, tiga lapis sel palisade, jaringan bunga karang, dan epidermis bawah. Pada epidermis bawah terdapat stomata yang penyebarannya tidak teratur.
Sel-sel palisade daun amat kecil dan memiliki panjang sekitar tiga kali diameternya. Di dalam lapisan palisade ini, tersebar sel-sel lendir yang bentuknya bulat seperti bola. Terkadang, sel-sel lendir tersebut pecah sehingga isi selnya keluar melalui epidermis atas
Pada permukaan bawah daun kakao akan dijumpai stomata. Sel penutupnya berbentuk seperti ginjal yang letaknya tenggelam (kritofor). Indeks stomata beragam, yakni antara 10-28 hingga 19-66, tergantung pada kultivarnya.
Sel-sel epidermis atas lebih besar dan dinding selnya tipis. Permukaannya dilapisi oleh kitin dan kadang-kadang juga dilapisi oleh lendir. Di lain pihak, ukuran sel epidermis permukaan bawah amat kecil dan dinding selnya tebal
2. 4. 4. Morfologi Kakao
2. 4. 4. 1. Daun
Berdasarkan percabangannya, daun kakao bersifat dimorfisme, yakni tumbuh pada dua tunas (ortotrop dan plagiotrop). Daun yang tumbuh pada tunas ortotrop, tangkai daunnya berukuran 7,5-10 cm, sedangkan yang tumbuh pada tunas plagiotrop berukuran sekitar 2,5 cm. Tangkai daun kakao berbentuk silinder dan bersisik halus. Sudut daun yang dibentuk adalah 30-80° terhadap batang atau cabang tempat tumbuhnya, tergantung pada tipenya.
Pada pangkal dan ujung tangkai daun terjadi pembesaran dan sering disebut sebagai persendian daun (articulation). Dengan adanya persendian ini, daun kakao mampu membuat gerakan sebagai respon terhadap arah datangnya sinar matahari.
Kuncup-kuncup daun dilindungi oleh satu pasang stipula pada pangkal tangkainya. Bila daun mulai tumbuh, stipula akan segera rontok. Stipula diduga berperan dalam melindungi kuncup dari faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan.
Ciri-ciri morfologi daun secara global adalah sebagai berikut :
a) Helai daun berbentuk bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus).
b) Susunan tulang daun menyirip dan menonjol ke permukaan bawah helai daun.
c) Tepi daun rata, daging daun tipis, tetapi kuat seperti perkamen.
d) Daun dewasa berwarna hijau tua, tergantung pada kultivarnya dengan lebar 10 cm dan panjang bisa mencapai 30 cm.
e) Permukaan daun licin atau mengkilap.
2. 4. 4. 2. Batang dan cabang
Dari aspek tunas vegetative, tanaman kakao memiliki sifat seperti halnya daun, yakni dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ka atas disebut tunas ortotrop (chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya kesamping disebut plagiotrop, cabang kipas, atau fan. Disamping arah pertumbuhannya, perbedaan kedua macam tunas tersebut juga terletak pada rumus daun, ukuran daun, serta ukuran tangkai daun.
Tanaman kakao yang berasal dari biji, setelah berumur sekitar satu tahun dan memiliki tinggi 0,9-1,5 m, pertumbuhan vertikalnya akan berhenti kemudian membentuk perempatan (jorket/jorquette).
2. 4. 4. 3. Akar
Pada awal perkecambahan benih, akar tunggang tumbuh cepat, yakni mencapai 1 cm pada umur 1 minggu, 16-18 cm pada umur satu bulan, dan 25 cm pada umur tiga bulan. Laju pertumbuhannya kemudian melambat dan untuk mencapai panjang 50 cm diperkirakan memakan waktu dua tahun. Kedalaman akar tunggang menembus tanah dipengaruhi oleh kondisi air tanah dan struktur tanah. Pada tanah yang jeluknya dalam dan drainase baik, akar tunggang kakao dewasa mencapai kedalaman 1,0-1,5 m. Tanaman kakao memiliki sistem perakaran yang dangkal karena sebagian besar akar lateral berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada jeluk 0-30cm.
2. 4. 4. 4. Bunga
Bunga kakao mengikuti rumus K5C5A5+5G(5) yang berarti bunga tersusun atas 5 daun kelopak bunga yang tidak terkait satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari (tersusun dalam dua lingkaran) masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari, dan 5 daun buah yang bersatu.
Ciri-ciri umum dari morfologi bunga kakao adalah sebagai berikut.
a) Berwarna putih, ungu, atau kemerahan. Warna yang kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota. Warna bunga ini khas untuk setiap kultivar.
b) Tangkai bunga kecil, tetapi panjang dengan ukuran 1-1,5 cm.
c) Daun mahkota berukuran panjang 6-8 mm dan terdiri atas dua bagian, yakni di bagian pangkal menyerupai kuku binatang dan di bagian ujung berbentuk lembaran tipis berwarna putih yang fleksibel.
2. 4. 4. 5. Buah dan Biji
Bentuk buah dan warna kulit buah kakao sangat bervariasi, tergantung pada kultivarnya. Namun, pada dasarnya hanya ada dua macam warna, yaitu:
a) Buah yang ketika muda berwarna hiaju atau hijau agak putih, bila sudah masak berwarna kuning, dan
b) Buah yang ketika masih muda berwarna merah, bila sudah masak berwarna oranye.
Permukaan kulit buah ada yang halus dan ada yang kasar, tetapi pada dasarnyakulit buah beralur 10 yang letaknya berselang-seling. Buah kakao akan masak setelah berumur 5-6 bulan, tergantung pada elevasi tempat penanaman. Pada saat buah masak, ukuran buah yang terbentuk cukup beragam dengan ukuran berkisar 10-30 cm, diameter 7-15 cm, tetapi tergantung pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama proses perkembangan buah.
Bijji kakao dilindungi oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih. Ketebalan daging buah bervariasi, ada yang tebal dan ada yang tipis. Rasa buah kakao cenderung asam-manis dan mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam daging buah terdapat kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan embryo axis
Kakao ditanam pada daerah-daerah yang memiliki bulan kering tidak lebih dari 3 bulan. Menurut Schmidt dan Ferguson keadaan iklim demikian disebut tipe iklim A atau B. Dengan demikian penyebaran pertanaman ini pada umumnya memiliki curah hujan antara 1250-3000 mm tiap tahun. Daerah-daerah di Indonesia tersebut ideal bilamana tidak lebih tinggi dari 1000 m dari permukaan laut (Susanto, 1994).
Evaluasi lahan adalah proses dalam menduga kelas kesesuaian lahan dan potensi lahan untuk penggunaan tertentu, baik untuk pertanian maupun nonpertanian. Adapun kerangka dasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah membandingkan persyaratan yang diperlukan suatu penggunaan lahan tertentu dengan sifat sumber daya yang ada pada lahan tersebut (Sitorus, 1995). Menurut Husein (1981), evaluasi kesesuaian lahan adalah usaha untuk mengelompokkan tanah-tanah tertentu sesuai dengan kebutuhan tanaman atau golongan tanaman.
Evaluasi kesesuaian lahan mempunyai penekanan yang tajam, yaitu mencari lokasi yang mempunyai sifat-sifat positif dalam hubungannya dengan keberhasilan produksi atau penggunaannya. Dalam menentukan kesesuaian untuk tanaman tertentu dikenal dua tahapan. Tahapan pertama menilai persyaratan tumbuh tanaman yang akan diusahakan atau mengetahui sifat-sifat tanah dan lokasi yang pengaruhnya bersifat negatif terhadap tanaman. Tahapan kedua mengidentifikasi dan membatasi lahan yang mempunyai sifat-sifat yang diinginkan tetapi tanpa sifat lain yang tidak diinginkan (Sitorus, 1989).
Prinsip utama yang digunakan dalam proses evaluasi lahan adalah sebagai berikut (FAO, 1976; Young 1978) dalam Sitorus, (1989):
1. Kesesuaian lahan dinilai berdasarkan macam atau jenis penggunaan lahan tersebut.
2. Evaluasi lahan membutuhkan pembandingan antara keuntungan yang diperoleh dengan memasukkan yang diperlukan.
3. Evaluasi dilakukan sesuai dengan kondisi-kondisi fisik lahan, kondisi sosial, kondisi ekonomi dan kondisi nasional.
4. Kesesuaian didasarkan atas penggunaan yang lestari.
5. Evaluasi melibatkan pembandingan lebih dari satu jenis penggunaan lahan.
Sys et al (1991) menambahkan bahwa klasifikasi kesesuaian aktual dan potensial adalah konsep lain dari evaluasi lahan dimanan kelas kesesuaian aktual berhubungan dengan kondisi lahan pada saat ini didasarkan kepada observasi langsung, sedangkan kelas kesesuaian potensial menunjukkan suatu situasi akan datang jika lahan telah diubah dengan perbaikan-perbaikan dasar.
2. 2. Metode Pendekatan dalam Evaluasi Lahan
Ada tiga metode pendekatan yang umum digunakan dalam evaluasi lahan yaitu pendekatan pembatas, pendekatan parametrik dan kombinasi pendekatan pembatas dan parametrik.
2. 2. 1. Pendekatan Pembatas
Pendekatan pembatas lahan adalah suatu cara memperlihatkan kondisi lahan atau karakteristik lahan. Pembatas lahan ialah penyimpangan dari kondisi optimal karakteristik lahan dan kualitas lahan yang memberikan pengaruh buruk untuk berbagai penggunaan lahan (Sys et al., 1991).
Selanjutnya dikatakan bahwa pendekatan pembatas lahan terbagi menjadi beberapa tingkat pembatas suatu lahan dan kelas kesesuaiannya mulai dari tingkat tanpa pembatas sampai pada tingkat sangat berat. Urutan tingkat pembatas sebagai berikut:
a. 0 (tanpa pembatas), digolongkan ke dalam kelas S1
b. 1 (pembatas ringan), digolongkan ke dalam kelas S1
c. 2 (pembatas sedang), digolongkan ke dalam kelas S2
d. 3 (pembatas berat), digolongkan ke dalam kelas S3
e. 4 (pembatas sangat berat), digolongkan ke dalam kelas N1 dan N2
2. 2. 2. Pendekatan Parametrik
Dalam pendekatan parametrik dilakukan pemberian bobot atau rating pada tiap karakteristik (kualitas) lahan. Jika karakteristik lahan atau kualitas lahan optimal untuk suat tipe penggunaan lahan yang dipilih, maka
diberikan nilai rating maksimum 100, namun jika karakteristik atau kualitas lahan memperlihatkan adanya pembatas, maka diberikan nilai rating yang rendah (Sys et al., 1991).
Menurut Mabbut, (1996) dalam Sitorus (1989), pendekatan parametrik mengkelaskan lahan atas dasar sejumlah sifat lahan tertentu, dimana pemilihan sifat tersebut ditentukan oleh peruntukan atau penggunaan lahan yang sedang dipertanyakan. Pendekatan ini biasanya digunakan apabila individu dari sifat lahan dianggap lebih penting daripada sifat lahan keseluruhan.
Pendekatan parametrik mempunyai beberapa keuntungan yaitu lebih bersifat kuantitatif dan kurang tergantung terhadap hasil interpretasi yang sifatnya subjektif dari bentuk lahan. Juga lebih bersifat statistik dalam mengukur keragaman, menformulasikan pengambilan contoh yang rasional dan menyatakan batas peluang dari hasil-hasil penemuan. Selain itu juga lebih cocok dengan perkembangan yang semakin meningkat (Sitorus, 1989).
2. 2. 3. Kombinasi Pendekatan Pembatas dan Parametrik
Kombinasi pendekatan parametrik dan pembatas yang dikemukakan oleh Sys et al (1991), sering digunakan untuk menentukan kelas kesesuaian lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan dengan cara memberi bobot berdasarkan nilai kesetaraan tertentu sekaligus merupakan penentuan tingkat pembatas lahan yang dicirikan oleh harkat terkecil.
Tingkat pembatas dan kombinasi antara pendekatan pembatas dan parametrik dalam evaluasi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Penilaian Kelas Kesesuaian Lahan
Indeks Lahan atau Iklim Nilai Ekivalensi
Tingkat Pembatas Kelas Kesesuaian Lahan
>75
50 – 75
25 – 50
12 – 25
<12 100 – 85
85 – 60
60 – 40
40 – 25
<25 Tidak Ada
Ringan
Sedang
Berat
Sangat Berat S1
S2
S3
N1
N2
Sumber: Sys et al (1991).
2. 3. Klasifikasi Kesesuaian Lahan
Evaluasi kesesuaian lahan dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Evaluasi lahan secara kualitatif menekankan pada hasil yang hanya bersifat kualitatif saja, seperti penggolongan satuan lahan ke dalam kategori; sesuai, cukup sesuai, sesuai marjinal, dan tidak sesuai, tanpa memperhitungkan biaya dan pendapatan yang akan diperoleh. Pendekatan ini umumnya hanya menggunakan parameter biofisik dalam proses evaluasi. Faktor ekonomi hanya digunakan sebagai acuan dasar, tidak dikaji. Sedangkan evaluasi kuantitatif adalah suatu pendekatan dimana perbedaan-perbedaan antara kelas-kelas satuan lahan dinyatakan dalam bentuk nilai atau angka-angka seperti indeks produktivitas, produksi persatuan lahan, daya dukung lahan, keuntungan bersih dan lain-lain (Baja, 2001.).
Dengan kata lain, aspek ekonomi lebih diperhitungkan dalam pendekatan ini. Dent dan Young (1981), membagi pendekatan kuantitatif menjadi evaluasi fisik kuantitatif dan evaluasi ekonomi. Hasil evaluasi kualitatif umumnya menunjukkan kemungkinan besarnya input yang diperlukan (melalui perbaikan kualiats) untuk pengusahaan suatu lahan terhadap jenis penggunaan tertentu. Sedangkan hasil evaluasi kuantitatif akan menunjukkan besarnya keuntungan atau kerugian dalam penggunaan lahan tertentu. Hasilnya cepat out of date akibat nilai ekonomi yang cepat berubah (Baja, 2001). Struktur dari sistem klasifikasi kesesuaian lahan terbagi kedalam tingkatan ordo, kelas, sub kelas dan satuan.
2. 3. 1. Ordo
Kesesuaian lahan pada tingkat ordo menunjukkan apakah lahan sesuai atau tidak sesuai untuk penggunaan tertentu. Ordo kesesuaian lahan ini dibagi dua yaitu; 1) Ordo S (sesuai) ialah lahan yang dapat digunakan untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatannya melebihi masukan yang diberikan, 2) Ordo N (tidak sesuai) ialah lahan yang mempunyai pembatas sedemikian rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari.
2. 3. 2. Kelas
Kesesuaian lahan pada tingkat kelas adalah pembagian lebih lanjut dari ordo dan menggambarkan tingkat-tingkat kesesuaian dari ordo. Apabila tiga kelas yang dipakai dalam ordo sesuai (S) dan dua kelas dalam ordo tidak sesuai (N), maka pembagian serta defenisi kelas tersebut adalah sebagai berikut:
2. 3. 2. 1. Kelas S1 (Sangat Sesuai):
Lahan tanpa pembatas atau sedikit pembatas ringan untuk suatu penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan sumberdaya lahannya. Keuntungan yang diharapkan dari hasil pemanfaatan lahan ini akan melebihi masukan yang diberikan.
2. 3. 2. 2. Kelas S2 (Cukup Sesuai):
Lahan yang mempunyai pembatas yang agak berat untuk suatu penggunaan secara lestari. Pembatas akan mengurangi hasil dan keuntungan serta menaikkan masukan yang diperlukan.
2. 3. 2. 3. Kelas S3 (Sesuai Marginal):
Lahan yang mempunyai pembatas-pembatas yang sangat berat untuk penggunaan yang lestari. Pembatasnya akan mengurangi hasil dan keuntungan serta perlu menaikkan masukan yang diperlukan.
2. 3. 2. 4. Kelas N1 (Tidak Sesuai Saat Ini):
Lahan yang mempunyai faktor pembatas berat tetapi masih memungkinkan untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya rasional.
2. 3. 2. 5. Kelas N2 (Tidak Sesuai Permanen):
Lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat sehingga tidak memungkinkan digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.
2. 3. 3. Sub Kelas
Kesesuaian lahan pada tingkat sub kelas mencerminkan jenis-jenis pembatas yang dimiliki atau bentuk perbaikan dalam suatu kelas kesesuaian lahan, tiap kelas kecuali kelas S1 dapat dibagi menjadi satu atau lebih sub kelas tergantung dari jenis pembatas yang ada. Jenis pembatas yang ditunjukkan dengan simbol huruf kecil yang diletakkan setelah simbol kelas.
Beberapa jenis pembatas menentukan sub kelas kesesuaian lahan yaitu pembatas iklim (c), pembatas topografi (t), pembatas kebasahan (w), pembatas faktor fisika tanah (s), pembatas faktor kesuburan tanah (f), pembatas salinitas dan alkalinitas (n).
2. 3. 4. Satuan
Kesesuaian lahan dalam tingkat unit merupakan pembagian lebih lanjut dari sub kelas berdasarkan atas besarnya faktor penghambat. Pada penelitian ini, tingkat kesesuaian lahan hanya dilakukan sampai kategori sub kelas.
2.4 Kakao (Theobroma cacao L.)
2.4.1 Sistematika Tanaman Kakao
Kakao merupakan satu-satunya diantara 22 jenis marga Theobroma, suku Sterculiaceae yang diusahakan secara komersial. Menurut Tjitrosoepomo (1988), sistematika tanaman kakao adalah sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Anak kelas : Dialypetalae
Bangsa : Malvales
Suku : Sterculiaceae
Marga : Theobroma
Jenis : Theobroma cacao L.
Menurut Cheesman (cit. Wood dan Lass, 2001), kakao dibagi tiga kelompok besar, yaitu criollo , forastero dan trinitario. Sifat criollo adalah pertumbuhannya kurang kuat, daya hasil lebih rendah daripada forastero, relatif gampang terserang hama dan penyakit. Permukaan kulit buah criollo kasar, berbenjol-bonjol, dan alur-alurnya jelas. Kulit ini tebal tetepi lunak sehingga mudah dipecah. Kadar lemak dalam biji lebih rendah daripada forastero tetapi ukuran bijinya besar, bentuknya bulat, dan memberikan citarasa khas yang baik. Lama fermentasi bijinya lebih singkat daripada tipe forastero. Dalam tata niaga kakao criollo termasuk kelompok kakao mulia (fine-flavoured), sementara itu kakao forastero termasuk kakao lindak (bulk)
2.4.2 Kesesuaian Lahan Dan Syarat Tumbuh Tanaman Kakao
Untuk dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik, tanaman kakao menghendaki lahan yang sesuai, yang mempunyai keadaan iklim dan keadaan tanah tertentu Keadaan iklim yang sesuai untuk tanaman kakao, antara lain:
a. Curah hujan cukup dan terdistribusi merata, dengan jumah curah hujan 1500-2500 mm/th, dengan bulan kering tidak lebih dari 3 bulan.
b. Suhu rata-rata antara 15 - 30 C, dengan suhu optimum 25,5 C
c. Fluktuasi suhu harian tidak lebih dari 9 C
d. Tidak ada angin bertiup kencang
Keadaan tanah yang dikehendaki tanaman kakao antara lain:
a. Solum tanah dalam (>150 cm)
b. Tekstur dan struktur tanah baik, sehingga tanah mempunyai daya menahan air, aerasi, dan drainase yang baik
c. pH tanah antara 6 - 7
d. Kandungan bahan organik tidak kurang dari 3%
e. Kandungan unsur hara cukup tinggi
2.4.3 Anatomi Kakao
Tanaman kakao tergolong dalam suku Sterculiacea dari bangsa Malvales. Berbeda dengan suku dari bangsa yang lain, struktur anatomi Sterculiaceae memiliki banyak kekhususan. Uraian anatomi organ kakao dimulai dari akar kemudian dilanjutkan dengan batang dan akar.
2. 4. 3. 1. Anatomi Akar
Pada saat akar mengalami pertumbuhan sekunder, berkas pengangkut primer akan menyusun bagian tengah kemudian membentuk struktur heksagonal (akar tunggang) dan struktur tetragonal (akar lateral). Pada jaringan primer, berkas floem letaknya berselang-seling secara radial dan berkas xilemnya dipisahkan oleh lapisan sel parenkim. Sementara itu, floem primer membentuk kelompok dan kemudian endodermisnya dipisahkan oleh sel perisikel. Awal pertumbuhan akar lateral dari lapisan perisikel berasal dari satu sisi yang berlawanan dengan tempat berkumpulnya xylem primer. Korteks disusun oleh 6-16 lapis sel parenkim dan terletak di sebelah luar endodermis. Epidermis akar tersusun atas satu lapis sel.
Xilem sekunder akar disusun oleh unsure-unsur trakea yang terdiri atas trakea, trakeida, serabut trakeida, dan parenkim kayu. Trakea akan lebih banyak dijumpai di dekat xilem primer, tetapi diameternya lebih kecil daripada trakea yang berada jauh dari xilem primer. Struktur jari-jari xilem akar kurang jelas, pada umumnya tersusun atas 1-3 lapis sel parenkim. Penampang melintang sel parenkim ini berbentuk bujur sangkar. Jari-jari xilem bagian luar terkait dengan berkas floem. Di bagian ini, jari-jari xilem akan melebar membentuk bagian floem dengan struktur menyerupai bentuk segitiga. Kebanyakan trakea berada berdampingan dengan jari-jari xilem ini.
Floem sekunder terdiri atas pembuluh tapis, sel pengiring, serabut floem, dan parenkim floem. Struktur berkas floem menyerupai bagian segitiga dan menjadi ciri khas dari suku Sterculiaceae. Berkas floem secara radial berselang-seling dengan jari-jari floem dan disebut sebagai jaringan dilatasi. Ukuran berkas floem akar relative lebih pendek daripada floem batang.
Akar sekunder (lateral) kakao tumbuh dari jaringan perisikel ke arah luar menembus endodermis, korteks, dan epidermis akar primer (akar tunggang). Anatomi akar lateral menyerupai akar tunggang dan perbedaan pokoknya hanya terletak pada penumpang melintang berkas pengangkut primer (primary vascular strand). Pada penampang melintang, akar tunggang bentuknya menyerupai bentuk heksagonal, sedangkan akar lateral menyerupai bangun tetragonal. Pada permukaan akar lateral banyak ditumbuhi bulu akar.
2. 4. 3. 2. Anatomi Batang
Batang kakao bersifat dimorfisme, artinya memiliki dua macam tunas, yaitu tunas ortotrop (chupon) dan tunas plagiotrop (fan). Anatomi kedua macam tunas tersebut pada dasarnya adalah sama. Xilem primer batang terkumpul pada bagian tepi empulur dan berdampingan dengan xilem sekunder yang tumbuh setelahnya. Diameter empulur cukup besar dengan bentuk sel-sel isodiametris dengan ruang-ruang antar sel yang lebar. Di bagian empulur ini terdapat banyak sel lendir yang
merupakan bentukan dari sekitar lima sel parinkem. Sel-sel tersebut memiliki dinding sel yang saling melarut sehingga membentuk saluran lendir memanjang di sepanjang batang.
Ukuran saluran lendir pada empular jauh lebih besar daripada saluran lendir yang terdapat pada korteks. Penampang melintang saluran pada batang ini bentuknya membulat pada bibit umur 4,5 bulan jumlah saluran sekitar 8-12. Pada korteks, bentuk penampang saluran lendir beragam, mulai dari bulat sampai lonjong. Ukurannya lebih kecil, tetapi jumlahnya lebih banyak dibandingkan saluran yang terdapat pada empulur. Walaupun sebarannya tidak teratur, saluran lendir pada korteks mudah ddijumpai pada bibit yang lebih muda karena ukurannya lebih besar.
Korteks pada batang kakao ukurannya lebih tebal dan tersusun atas 15-20 lapis sel. Sel-selnya bersifat parenkimatis dan bentuknya isodiametris. Di bagian luar korteks tersebar sel-sel lendir yang membentuk saluran lendir dan memanjang sampai tangkai daun.
Kekhasan yang lain dari pertumbuhan batang kakao adalah terbentuknya jorket dari tunas ortotrop. Dari joket tersebut akan tumbuh 4-6 cabang plagiotrop. Pengamatan anatomis menunjukan bahwa tiap-tiap cabang plagiotrop tumbuh dari ruas-ruas yang berbeda, tetapi karena buku antar ruas tersebut amat pendek, membuat semua cabang plagiotrop seakan-akan tumbuh dari satu ruas yang sama.
2. 4. 3. 3. Anatomi Daun
Susunan anatomi daun kakao berturut-turut terdiri atas satu lapis sel epidermis, tiga lapis sel palisade, jaringan bunga karang, dan epidermis bawah. Pada epidermis bawah terdapat stomata yang penyebarannya tidak teratur.
Sel-sel palisade daun amat kecil dan memiliki panjang sekitar tiga kali diameternya. Di dalam lapisan palisade ini, tersebar sel-sel lendir yang bentuknya bulat seperti bola. Terkadang, sel-sel lendir tersebut pecah sehingga isi selnya keluar melalui epidermis atas
Pada permukaan bawah daun kakao akan dijumpai stomata. Sel penutupnya berbentuk seperti ginjal yang letaknya tenggelam (kritofor). Indeks stomata beragam, yakni antara 10-28 hingga 19-66, tergantung pada kultivarnya.
Sel-sel epidermis atas lebih besar dan dinding selnya tipis. Permukaannya dilapisi oleh kitin dan kadang-kadang juga dilapisi oleh lendir. Di lain pihak, ukuran sel epidermis permukaan bawah amat kecil dan dinding selnya tebal
2. 4. 4. Morfologi Kakao
2. 4. 4. 1. Daun
Berdasarkan percabangannya, daun kakao bersifat dimorfisme, yakni tumbuh pada dua tunas (ortotrop dan plagiotrop). Daun yang tumbuh pada tunas ortotrop, tangkai daunnya berukuran 7,5-10 cm, sedangkan yang tumbuh pada tunas plagiotrop berukuran sekitar 2,5 cm. Tangkai daun kakao berbentuk silinder dan bersisik halus. Sudut daun yang dibentuk adalah 30-80° terhadap batang atau cabang tempat tumbuhnya, tergantung pada tipenya.
Pada pangkal dan ujung tangkai daun terjadi pembesaran dan sering disebut sebagai persendian daun (articulation). Dengan adanya persendian ini, daun kakao mampu membuat gerakan sebagai respon terhadap arah datangnya sinar matahari.
Kuncup-kuncup daun dilindungi oleh satu pasang stipula pada pangkal tangkainya. Bila daun mulai tumbuh, stipula akan segera rontok. Stipula diduga berperan dalam melindungi kuncup dari faktor lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan.
Ciri-ciri morfologi daun secara global adalah sebagai berikut :
a) Helai daun berbentuk bulat memanjang (oblongus), ujung daun meruncing (acuminatus), dan pangkal daun runcing (acutus).
b) Susunan tulang daun menyirip dan menonjol ke permukaan bawah helai daun.
c) Tepi daun rata, daging daun tipis, tetapi kuat seperti perkamen.
d) Daun dewasa berwarna hijau tua, tergantung pada kultivarnya dengan lebar 10 cm dan panjang bisa mencapai 30 cm.
e) Permukaan daun licin atau mengkilap.
2. 4. 4. 2. Batang dan cabang
Dari aspek tunas vegetative, tanaman kakao memiliki sifat seperti halnya daun, yakni dimorfisme, artinya mempunyai dua bentuk tunas vegetatif. Tunas yang arah pertumbuhannya ka atas disebut tunas ortotrop (chupon), sedangkan tunas yang arah pertumbuhannya kesamping disebut plagiotrop, cabang kipas, atau fan. Disamping arah pertumbuhannya, perbedaan kedua macam tunas tersebut juga terletak pada rumus daun, ukuran daun, serta ukuran tangkai daun.
Tanaman kakao yang berasal dari biji, setelah berumur sekitar satu tahun dan memiliki tinggi 0,9-1,5 m, pertumbuhan vertikalnya akan berhenti kemudian membentuk perempatan (jorket/jorquette).
2. 4. 4. 3. Akar
Pada awal perkecambahan benih, akar tunggang tumbuh cepat, yakni mencapai 1 cm pada umur 1 minggu, 16-18 cm pada umur satu bulan, dan 25 cm pada umur tiga bulan. Laju pertumbuhannya kemudian melambat dan untuk mencapai panjang 50 cm diperkirakan memakan waktu dua tahun. Kedalaman akar tunggang menembus tanah dipengaruhi oleh kondisi air tanah dan struktur tanah. Pada tanah yang jeluknya dalam dan drainase baik, akar tunggang kakao dewasa mencapai kedalaman 1,0-1,5 m. Tanaman kakao memiliki sistem perakaran yang dangkal karena sebagian besar akar lateral berkembang dekat permukaan tanah, yaitu pada jeluk 0-30cm.
2. 4. 4. 4. Bunga
Bunga kakao mengikuti rumus K5C5A5+5G(5) yang berarti bunga tersusun atas 5 daun kelopak bunga yang tidak terkait satu sama lain, 5 daun mahkota, 10 tangkai sari (tersusun dalam dua lingkaran) masing-masing terdiri dari 5 tangkai sari, dan 5 daun buah yang bersatu.
Ciri-ciri umum dari morfologi bunga kakao adalah sebagai berikut.
a) Berwarna putih, ungu, atau kemerahan. Warna yang kuat terdapat pada benang sari dan daun mahkota. Warna bunga ini khas untuk setiap kultivar.
b) Tangkai bunga kecil, tetapi panjang dengan ukuran 1-1,5 cm.
c) Daun mahkota berukuran panjang 6-8 mm dan terdiri atas dua bagian, yakni di bagian pangkal menyerupai kuku binatang dan di bagian ujung berbentuk lembaran tipis berwarna putih yang fleksibel.
2. 4. 4. 5. Buah dan Biji
Bentuk buah dan warna kulit buah kakao sangat bervariasi, tergantung pada kultivarnya. Namun, pada dasarnya hanya ada dua macam warna, yaitu:
a) Buah yang ketika muda berwarna hiaju atau hijau agak putih, bila sudah masak berwarna kuning, dan
b) Buah yang ketika masih muda berwarna merah, bila sudah masak berwarna oranye.
Permukaan kulit buah ada yang halus dan ada yang kasar, tetapi pada dasarnyakulit buah beralur 10 yang letaknya berselang-seling. Buah kakao akan masak setelah berumur 5-6 bulan, tergantung pada elevasi tempat penanaman. Pada saat buah masak, ukuran buah yang terbentuk cukup beragam dengan ukuran berkisar 10-30 cm, diameter 7-15 cm, tetapi tergantung pada kultivar dan faktor-faktor lingkungan selama proses perkembangan buah.
Bijji kakao dilindungi oleh daging buah (pulpa) yang berwarna putih. Ketebalan daging buah bervariasi, ada yang tebal dan ada yang tipis. Rasa buah kakao cenderung asam-manis dan mengandung zat penghambat perkecambahan. Di sebelah dalam daging buah terdapat kulit biji (testa) yang membungkus dua kotiledon dan embryo axis
Kakao ditanam pada daerah-daerah yang memiliki bulan kering tidak lebih dari 3 bulan. Menurut Schmidt dan Ferguson keadaan iklim demikian disebut tipe iklim A atau B. Dengan demikian penyebaran pertanaman ini pada umumnya memiliki curah hujan antara 1250-3000 mm tiap tahun. Daerah-daerah di Indonesia tersebut ideal bilamana tidak lebih tinggi dari 1000 m dari permukaan laut (Susanto, 1994).
Langganan:
Postingan (Atom)